Kamis, 13 Desember 2012

Makalah Tasawuf Dalam Islam

KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah hirobil alamin, kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT, karena pada hari ini kita masih di berikan kesehatan maupun rohani.

    Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Tasyawuf Dalam Islamb”
    Sebagai tugas dari mata kuliah “Materi PAI” semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman semua.

Penulis





















DAFTAR ISI

Halaman Judul         i
Kata Pengantar         ii
Daftar Isi         iii
BAB I PENDAHULUAN         1
A.    Latar Belakang         1
B.    Rumusan Masalah         1
BAB II PEMBAHASAN         2
A.    Pengertian dan Asal-Usul Tasawuf         2
B.    Karakteristik Tasawuf         3
C.    Tahapan Spiritual dan Ajaran Pokok Tasawuf         4
D.    Peran Tasaswuf dalam Kehidupan Modern         4
BAB III PENUTUP         5
A.    Kesimpulan         5
Daftar Pustaka         6















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tasawuf secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk menyucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran-Nya senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Ibn al-Khaldun pernah menyatakan bahwa tasawuf para sahabat bukanlah pola ketasawufan yang menghendaki kasyf al-hijab (penyingkapan tabir antara Tuhan dengan makhluk) atau hal-hal sejenisnya yang diburu oleh para sufi di masa belakangan. Corak sufisme yang mereka tunjukkan adalah ittiba’ dan iqtida’ (kesetiaan meneladani) perilaku hidup Nabi. Islam sekalipun mengajarkan tentang ketakwaan, qana’ah, keutamaan akhlak dan juga keadilan, tetapi sama sekali tidak pernah mengajarkan hidup kerahiban, pertapaan atau uzlah sebagaimana akrab dalam tradisi mistisisme agama-agama lainnya. Abdul Qadir Mahmud menyatakan bahwa pola hidup sufistik yang diteladankan oleh sirah hidup Nabi dan para sahabatnya masih dalam kerangka zuhud. Kata Ahmad Sirhindi, tujuan tasawuf bukanlah untuk mendapat pengetahuan intuitif, melainkan untuk menjadi hamba Allah. Menurutnya, tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dibanding tingkat ‘abdiyyat (kehambaan) dan tidak ada kebenaran yang lebih tinggi di luar syariat. Jadi, orientasi fundamental dalam perilaku sufistik generasi salaf adalah istiqamah menunaikan petunjuk agama dalam bingkai ittiba’, dan bukannya mencari karomah atau kelebihan-kelebihan supranatural.
B.    Rumusan Masalah
A.    Apa Pengertian dan asal-usul tasawuf ?
B.    Bagaimana Karakteristik tasawuf ?
C.    Apa Tahapan spiritual dan ajaran pokok tasawuf ?
D.    Apa Peran tasawuf dalam kehidupan modern ?


BAB II
PEMBAHASAN

TASAWUF DALAM ISLAM

A.    Pengertian dan Asal-Usul Tasawuf
Tasawuf memiliki banyak pengertian sesuai dengan asal-usul kata tersebut antara lain :
•    Shafa (Suci)
Disebut shafa (suci) karena kesucian batin sufi dan kebersihan tindakannya

•    Shaff (Barisan)
Karena para sufi memiliki iman yang kuat, jiwa yang bersih, dan senantiasa memilih barisan terdepan dalam shalat berjamaah.

•    Shaufanah
Yakni sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di padang pasir jazirah Arabia.

•    Shuffah (Serambi tampak duduk)
Yakni shufah masjid nabawi di madinah yang disediakan bagi para tunawisma dan kalangan muhajirin dimasa Rasulullah SAW

•    Shafwah (Yang terpilih atau terbaik)
Sufi adalah orang yang terpilih diantara hamba-hamba Allah SWT

•    Theosophi (Yunani : Theo = Than, Shopos = Hikmah)
Yang berarti hikmah atau kearifan ketuhanan

•    Shuf (Bulu domba)
Karena para shufi memakai pakaian dari bulu domba yang kasar, sebagau lambing kerendahan hati, untuk menghindari sikap sombong disamping untuk menerangkan jiwa serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. 
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, Zakaria Al-Anshari (852-925/1448-1515M) seorang penulis tasawuf, meringkars tasawuf sebagai cara menyucikan diri, meningkatkan akhlak, dan membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kebahagiaan abadi.

    Dua hal pokok tentang tasawuf yang disepakati semua pihak yaitu :
1.    Kesucian jiwa untuk menghadap Allah SWT sebagai Zat yang Maha Suci.
2.    Upaya pendekatan diri secara individual kepadanya
Kedua pokok tasawuf itu mengacu pada pesan dalam Al-Qur’an




Artinya :
“ Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) dan mengingat nama tuhannya, lalu dia shalat. (QS. Al-A’la / 87: 14-15)

B.    Karakteristik Tasawuf
Tasawuf diartikan sebagai pengalaman mistik dalam pengertian ini, tasawuf dipahami sebagai suatu kondisi pemahaman yang dapat memungkinkan tersingkapnya realitas mutlak.
Tasawuf dikalsifikasikan menjadi tiga macam yaitu :
1.    Tasawuf akhlaqi
Yaitu tasawuf yang sangat menekankan nilai-nilai etis (moral)
2.    Tasawuf ‘Amati
Yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribasah, tujuannya agar diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
3.    Tasawuf falsafi
Yaitu tasawuf yang menekankan pada masalah filsafat dan metafisika, tasawuf ini disebut juga irfani (yang bersifat pengetahuan batin).

C.    Tahapan Spiritual dan Ajaran Pokok Tasawuf
Tujuan tasawuf adalah mencapai kebedaan sedekat mungkin disisi Allah SWT dengan mengenal-nya secara langsung dan tenggelam dalam kemaha esaan-Nya yang mutlak. Dengan kata lain, sufi adalah seorang yang ego pribadinya sudah lebur dalam pelukan yang keabadian Allah, sehingga semua rahasia yang membatasi dirinya dengan Allah tersingkap atau kasyaf.

Ajaran pokok tasawuf adalah sebagai berikut :
1.    Zuhud
Zuhud artinya mennjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia.
2.    Marhabbah
Tokoh marhhabbah yang terkenal adalah Rabi’ah Al-Adawiyah
3.    Fana’ dan baqa’
Fana’ artinya sina, hancur, lebur atau hilang. Sedangkan baqa’ artinya kekal abadi dan senantiasa ada.
4.    Ittihad
Ittihad yaitu pengalaman kesatuan seorang sufi dengan Allah pada saat ia sedang mabuk dalam kenikmatan bersatu dengan-Nya.
5.    Hulul
Tokoh yang terkenal dalam hulul adalah Abu Mansur Al-Hallaj .
Hulul ialah bertempatnya sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan.
6.    Wahdatul – wujud
Doktrin ini bertolak dari pandangan bahwa semua wujud hanya mempunyai satu realitas, dan realitas tungal itu ialah Allah SWT.
Tokoh yang terkemuka dalam wahdatul-wujud adalah ibnu’ arabi.

D.    Peran Tasawuf Dalam Kehidupan Modern
Salah satu cirri masyarakat modern yang paling meninjol menurut Prof. Komarudin Hidayat, ialah sikapnya yang sangat agresif terhadap kemajuan.
Menurut Prof. Hmka kita bias berprilaku sufi atau mengikuti sunah-sunah yang sudah digariskan oleh Nabi SAW. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus diteladani dari kehidupan Nabi antara lain :
1.    Zuhud
Beliau mengajarkan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukanlah kekayaan harta benda melainkan kekayaan rohaniah.
2.    Hidup sederhana
Dalam kehidupan sehari-hari tercermin kederhanaan beliau dalam perumahan pakaian dan makanan.
3.    Bekerja keras
Hidup sederhana yang dicontohkan Rasul bukan lahir dari kemalasan.
Nabi menyuruh bekerja keras untuk memenuhi hajat hidup dan kelebihan rezeki yang diperolehnya dari cucuran keringat itu untuk kepentingan infak dijalan Allah.
Nabi pernah menandaskan :
“Bekerjalah untuk dunia, seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari”.
4.    Perbaikan Akhlak
Nabi Muhammad SAW adalah contoh dari suri tauladan yang paling baik dalam tingkah laku (akhlak). 
5.    Ibadah
Rasulullah adalah ahli ibadah yang paling mulai, bukan saja dalam ibadah wajib juga dalam ibadah sunah.
Diantara ajaran tasawuf positif yang dikembangkan dalam kehidupan modern ialah :
a.    Memandang zuhud sebagai prinsip tasawuf yang selaras dengan kewajiban zakat
b.    Memahami amal saleh secara luas, tanpa membatasinya pada amal-amal yang bersifat agamis
c.    Bekerja keras sebagai salah satu cara dalam menerjemahkan kehendak Allah atau menjemput takdir-Nya.
d.    Berusaha ke menginegrasikan nilai-nilai tasawuf ke dalam dunia modern seperti ke dalam dunia bisnis, ekonomi, politik, hingga ke dalam teknologi komunikasi.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tasawuf ialah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa pada kesungguhan amal untuk menjauhkan keduniaan / zuhud dan mendekatkan dari pada Allah SWT.
























DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Zaki Ibrahim, Tasawuf Salafi: Menyucikan tasawuf dari noda-noda, Terj. Abdul Syakur dkk. (Jakarta: Hikmah, 2002), 7.
Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, (Yogyakarta:Pustaka pelajar, 1999), 11-16.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar