Pages

Sunday, 6 January 2013

Makalah Bahasa Indonesia Tentang Puisi

I.    Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia sudah sepatutnya kita menyadari bahwa sebuah karya sastra adalah sesuatu yang sangat kaya dengan makna.

Karya sastra tersebut harus dapat dipahami agar dapat diketahui makna yang terkandung didalamnya.
Selain itu, dihadapkan pada sebuah tantangan bahwa kita akan menjadi seorang pengajar yang dituntut untuk mempunyai kompetensi untuk mengajar sastra yang salah satunya adalah pemahaman terhadap genre sastra puisi. Oleh sebab itu, maka kita harus senantiasa dapat memahami bagaimana cara atau metode dalam memahami bagaimana cara atau metode dalam memaknai sebuah karya sastra yang dalam hal ini adalah puisi.

B.    Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana cara memahami sebuah puisi ?
2.    Apa makna yang terkandung dari sebuah contoh puisi dalam makalah?

C.    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai setelah menyusun makalah adalah :
1.    Memberikan gambaran bagaimana cara memahami sebuah puisis
2.    Memberikan makna atau tafsiran terhadap contoh puisi yang terdapat dalam makalah. 







II.    PEMABAHASAN
A.    Kajian Teori
1.    Deskripsi Teori yang Digunakan
Teori Struktural Murni
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri diluar stuktur itu.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai pendekatan structural
-    Suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsure sebagai individu yang berdiri sendiri diluar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya. (Fokemma, 1977:21).
-    Analisis structural merupakan tugas prioritas atau pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intriksik yang dapat digali dari karya itu sendiri. (A. Teew, 1984:135)

2.    Deskripsi Objek yang dianalisis
Puisi
Puisi adalah karya tulis yang indah bentuk karangan yang tidak terikat oleh rima, ritme, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat.
Puisi meru[akan ungkapan perasaan dan pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu.
-    Menurut Sumardi
Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata khas (Imajinatif).
-    Menurut J. Waluyo
Puisi adalah genre sastra yang paling banyak menggunakan kata kias
-    Menurut Thomas Carlyle
Puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musical
-    Menurut Herbert Spenser
Puisis meru[akan bentuk pengucapan gagasan yang sifatnya emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan.

a.    Struktur Fisik Puisi
-    Perwajahan Puisi (Tipografi)
Tipografi adalah bentuk puisi seperti halaman yang dipenuhi kata-kata, tepi, kanan, kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, hal-jal tersebut sangat menentukan dalam pemaknaan terhadap puisi.

-    Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya, karena itu puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal. Maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

-    Imaji
Imaji yaitu kata-kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga yaitu suara, penglihatan, raba atau sentuh.
Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengarkan dan merasakan seperti apa yang dirasakan dan dialami penyair.

-    Kata Konkret
Kata konkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lembang.
-    Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah bahasa terbias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. (Soedjito, 1986:128)
Bahasa figurative menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna (Waluyo, 1987 : 83).

-    Rima dan Irama
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi baik diawal, tengah, dan akhir baris puisi, sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan dalam mendeskripsikan puisinya.


b.    Struktur Batin Puisi
-    Tema atau makna
Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

-    Rasa
Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.

-    Nada
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya

-    Amanat
Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya.



B.    Analisis Puisi
Analisis structural meliputi struktur fisik dan batin puisi. Analisis struktur puisi adalah analisis puisi ke dalam unsure-unsurnya dan fungsinya bahwa setiap unsure itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsure-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur.

Analisis puisis “PENERIMAAN” Karya Chairil Anwar

PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau
Kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu
Lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk ! tentang aku
Dengan berani.

Kalau kau mau kuterima
Kembali
Untuk sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku
Enggan berbagi
Maret 1943

a.    Struktur Fisik Puisi
-    Perwajahan Puisi
Puisi penerimaan karya Chairil Anwar memiliki tipografi yang semi konsisten. Puisi ini terdiri dari enam bait yang beberapa baitnya memiliki kesamaan dalam jumlah baris
Jumlah baris untuk bait pada puisi ini berpola 2-1-2-1 yaitu dua baris untuk bait ganjil dan satu baris untuk bait genap.
Chairil Anwar pun menulis puisi ini dengan konsisten, yaitu dengan menempatkan huruf capital pada setiap baris dalam puisi ini. Namun bila dititik secara seksama maka kita akan menemukan keganjilan dari keputusan menempatkan huruf capital untuk setiap baris ini keganjilan ini terutama terdapat pada baris kedua bait-bait genjil.
Menurut hemat saya makna dari baris tersebut adalah penjelas bagi baris sebelumnya, sehingga mestinya huruf capital tidak diberikan sepertinya ada makna tersirat dari keputusan Chairil Anwar menulis huruf capital disana atau mungkin juga sekedar menjaga konsistentitas penulisan saja.

-    Diksi
Dalam puisi penerimaan ini, Chairil Anwar seperti biasa memilih kata-kata yang sederhana,namun indah dan sarat makna.
Pemilihan kata yang Chairil lakukan membuat pembaca sajak ini merasakan dengan jelas suasana hati Chairil dan membuat puisi ini lebih bernyawa.

-    Imaji
Dalam puisi ini Chairil Anwar tidak memunculkan teknik imaji yang dominant. Hanya saja dengan kelebihannya, Chairil Anwar masih saja mampu membuat pembaca merasakan apa yang ia rasakan. Satu baris yang mungkin masih bisa di golongkan pada pengimajian adalah “Bak kembang sari sudah terbagi”. Baris ini mengajak kita membayangkan situasi kembang sari yang telah terbagi.

-    Kata Konkrit
Dalam setiap penulisan puisinya, Chairil Anwar selalu memunculkan kata konkrit sebagai cirri khasnya. Begitu pula halnya dengan puisi penerimaan ini. Kata konkrit pada puisi ini terwujud dalam baris “Bak kembang sudah terbagi” dan “sedang dengan cermin aku enggan terbagi”.
Kembang selalu identik dengan seorang perempuan, namun bukan Chairil Anwar namanya bila ia tidak menjadikan karyanya berbeda. Maka ia pun menulis kembang sari. Entah apa maksud pemilihan sari, mungkin karena sari yang  ada pada serbuk sari itu mudah sekali terbagi.
Sedangkan cermin adalah sebuah alat pentul yang merefleksikan diri kita yang nyata. Dalam baris “sedang dengan cermin aku enggan berbagi”, Chairil Anwar menegaskan bahwa dirinya tidak mau di duakan bahkan dengan bayangannya sekalipun.

-    Gaya Bahasa
Chairil dalam puisi penerimaan ini menggunakan gaya bahasa smile yang terwujud pada baris kedua pada bait ketiga “Bak kembang sari sudah terbagi”.

-    Rima dan Irama
Puisi ini memiliki riam yang konsisten karena seluruh baris pada puisi ini berakhiran huruf I dari awal hingga akhir.
Sedangkan irama yang menunjukkan keteguhan hari penyair dalam mempertahankan prinsipnya meski ia telah memberikan kesempatan. Irama yang di hasilkan terkesan biasa saja karena susunan kata pada tiap barisnya sendiri tersusun dari kata-kata yang sederhana.

b.    Struktur Batin Puisi
Dalam puisi ini Chairil Anwar mengangkat tema percintaan yaitu tentang seorang lelaki yang masih memberi harapan pada perempuan yang dulu pernah memiliki hubungan khusus dengannya. Ini tergambar dari bait pertama dan kedua.
    Kalau kau mau kuterima kau
Kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Sang lelaki menyadari bahwa perempuan yang masih ia beri kesempatan kembali itu sudah tidak sendiri. Maka ia ingin perempuan itu memutuskan keputusan dengan tegas. Ini tergambar pada lanjutan syairnya sebagai berikut :

    Kutahu kau bukan yang dulu lagi
    Bak kembang sari sudah terbagi
    Jangan tunduk ! tentang aku dengan
    Berani
   
    Kalau kau mau ku terima
    Kembali
    Untuk ku sendiri tapi

    Sedang dengan cermin aku
    Enggan berbagi

-    Rasa (Feeling)
Dalam hal ini penyair merasakan semangat pengharapan dengan sedikit kecemasan bahwa sang mantan kekasih akan berfikir dan menimbang penawasannya dengan matang hingga ia akan kembali padanya.

-    Nada (Tore)
Pada puisi ini, Chairil Anwar menuangkan perasaan harap-harap cemas dan ketegaran pengharapan yang ia rasakan di karenakan pada dasarnya ia masih mencintai perempuan yang dimaksud. Logikanya adalah mana mungkin ia memberikan kesempatan pada perempuan tersebut untuk kembali bila ia tidak mencintainya. Kemudian ketegasan adalah supaya perempuan tersebut memilih dengan tegas untuk kembali padanya atau terus bersama yang lain.

-    Amanat
Pesan yang ingin disampaikan oleh Chairil Anwar secara khusus tentu agar ia tujukan kepada sang perempuan. Yaitu agar is mempertimbangkan penawaran Chairil Anwar dan memutuskan dengan tegas keputusan yang akan ia ambil. Dan secara umum], Chairil Anwar ingin mengabarkan kepada seluruh pembaca, bahwa sosok Chairil Anwar adalah sosok yang benci pada hal yang setengah-setengah. Chairil Anwar ingin mengabarkan pada setiap pembaca sajaknya bahwa dirinya adalah sosok yang tegas dan menyukai ketegasan.



























III.    PENUTUP

A.    Simpulan
Setelah menganalisis puisi penerimaan karya Chairil Anwar, saya menyimpulkan bahwa puisi tersebut begitu sarat dengan makna yang sangat berguna bagi kita dalam menempuh kehidupan.
Mengkaji tema, perasaan, nada, suasana dan amanat sebuah puisi  memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya, selain kaitannya dengan saya yang bergelut dengan dunia pendidikan juga makna yang terkandung dalam puisi tersebut tidak terlepas dari nuansa religius yang dapat memperkokoh keimanan.

B.    Saran
Saya hanya bisa menyarankan agar mempelajari dan memakai sebuah puisi bukan karena tuntuan tugas atau hal lain, melainkan karena panggilan jiwa yang merasa butuh akan amanat yang terkandung dalam sebuah puisi. 

No comments:

Post a Comment