Jumat, 26 April 2013

MAKALAH TENTANG AL-MAHKAM DAN AL-MUTASYABIH



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan taufik, hidayah serta inayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang yang berjudul “Al-Muhkam dan Al-Mutasyabih” tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW  yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang yaitu dengan agama islam.

            Makalah ini kami buat sebagai bahan diskusi mata pelajaran Ulumul Qur’an, semoga makalah ini juga bisa bermanfaat untuk mahasiswa pada umumnya.
            Kami mengucapkan banyak  terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberi pengarahan selama penyusunan makalah ini. Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang bisa lebih baik.


Belitan, 29 Oktober 2012

Penulis
           









DAFTAR ISI

Halaman Judul ......................................................................................................... i
Kata Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................................................ iii
Pendahuluan ............................................................................................................ 1
Pembahasan ............................................................................................................. 2
  1. Dalalah Lafadz Terhadap Maknannya ........................................................ 3
  2. Pengertian Al-Muhkam dan Al-Mutasyabih ............................................... 4
  3. Pembagian-Pembagian Ayat-Ayat Mutasyabihat ....................................... 8
  4. Sikap Ulama Terhadap Al-Mahkam dan Al-Mutasyabihat ......................... 9
  5. Kaidah-Kaidah Muhkam dan Mustasyabih............................................... 14
  6. Hukum Muhkam dan Mutasyabih............................................................. 15
Kesimpulan ........................................................................................................... 16
Daftar Pustaka ................................................................................................. ..... 17           
















PENDAHULUAN

            Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia dan juga dalam menjalankan kehidupan di dunia. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai sumber ajaran agama islam. Al-Qur’an menggariskan pokok-pokok akidah yang benar dan prinsip-prinsip yang lurus dalam ayat-ayat yang tegas keterangannya dan jelas cirri-cirinya. Semua itu bertujuan untuk memelihara manusia dari akidah yang menyimpang dan menyelamatkan manusia hidup di dunia dan akhirat.
            Ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an adakalanya berbentuk lafaz, ungkapan, dan uslub yang berbeda tetapi artinya tetap satu, sudah jelas maksudnya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang yang membacanya. Di samping ayat yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat  yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengambil kepada makna yang jelas dan tegas.
            Kelompok ayat pertama, yang telah jelas maksudnya itu disebut dengan Muhkam, sedangkan kelompok ayat kedua yang masih samar-samar disebut dengan Mutasyabih, kedua macam ayat inilah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini.
            Seluruh Al-Qur’an adalah muhkam jika kata muhkam itu berarti kokoh, kuat membedakan antara yang hak dengan yang batil, yang benar dan yang salah. Dan Al-Qur’an itu seluruhnya adalah mustasyabih itu berarti kesempurnaan dan kebaikan. Al-Qur’an satu ayat dengan ayat lainnya saling menyempurnakan dan memperbaiki ajaran-ajaran yang salah selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
            Dalam makalah ini juga akan membahas dalalah lafadz yang berhubungan dengan makna yang jelas ataupun dengan makna hakikat muhkam dan mustasyabih.



PEMBAHASAN
AL-MUHKAM DAN AL-MUTASYABIH

A.    Dalalah Lafdz Terhadap Maknanya
Yang dimaksud dengan dalalah lafadz terhadap maknanya adalah bahwa suatu lafadz yang lazim diketahui artinya maka mesti di ketahui maknanya oleh yang meletakannya.
Dalam pembahasan ini terdapat dua bagian :
1.      Pembagian dalalah lafadz menurut ahli Mantiq terdapat tiga macam :
a.       Dalalah Al-Muthabaqah ; yaitu suatu lafadz yang menunjukkan arti yang tepat sebagaimana diletakkannya seperti dalalah al-insan (manusia), yang berarti al-hayawan al-nathiq (binatang yang berakal).
b.      Dalalah Al-Tadlamun ; yaitu dalalah lafadz atas bagian dari makna yang telah diletakkan. Seperti dalalah lafadz insane atas setiap yang berakal.
c.       Dalalah Al-Iltizam ; yaitu dalalah lafadz sesuai dengan pemahaman pada pikiran yang tidak bisa dipisahkan dari arti katanya, seperti Dalalah lafadz matahari atas sinarnya.

2.      Pembagian dalalah lafadz menurut ulama ushul berdasarkan kepada kesamaran dan kejelasan maknanya terbagi menjadi dua bagian yaitu khafi al-dalalah dan dzahir al-dalalah yang masing-masing mempunyai cabang yaitu:
a.       Khafi al-dalalah ; yaitu yang asli katanya mempunyai arti samar ataupun kesamarannya dikarenakan oleh hal lain, atau bahkan tidak dapat dipahami sama sekali, atau dapat hilang kesamarannya artinya dengan mengembalikan kepada yang mengatakannya atau dengan penelitian dan perenungan. Pembagian ini berdasarkan tingkat kesamaran dalalahnya ada empat bagian, yaitu :
1.      Al-Mutasyabih yaitu sesuatu yang pada asalnya tidak jelas dalalah terhadap maknanya dan tidak diketahui maksudnya karena hanya Allah-lah yang mengetahui secara parti dan benar.
2.      Al-Mujmal yaitu yang pada asalnya samar makna dalalah lafadz dan dapat hilang kesamarannya dengan keterangan dari yang mengatakan.
3.      Al-Masykil yaitu suatu lafadz yang pada dasarnya dalalahnya samar atas maknanya, dan dapat hilang kesamarannya dengan penelitian dan perenungan.  
4.      Al-Kahfi yaitu suatu lafadz yang mempunyai dalalah jelas pada maknanya, akan tetapi menjadi samar karena hal atau lafadz lain.

b.       Dhahir al-dalalah, adalah suatu lafadz yang dapat diketahui maknanya dengan shigatnya akan tetapi tergantung dengan hal diluar lafadz tersebut. Berdasarkan tingkatan kejelasannya dalalah terhadap maknanya lafadz mempunyai empat bagian yaitu :
1.      Al-dhatur, yaitu lafadz yang dalalah maknanya secara jelas tidak diketahui dan ditafsirkan atau dita’wilkan dan juga dapat dinaskh pada masa Rasulullah SAW.
2.      Nash, yaitu lafadz yang dalalahnya dapat diketahui dari maknanya yang dimaksud dalam derivasi kata dan dalalahnya dapat ditafsirkan atau di ta’wilkan dan dapat dinaskh pada masa Rasul.
3.      Al-Mufassar yaitu lafadz yang dalalahnya pada mulanya dapat diketahui dari makna  yang dimaksud dalam syiqaqnya atau dapat diketahui karena  hal yang menyertai dan tidak dapat ditafsirkan / di ta’wilkan, akan tetapi dapat dinaskh pada masa rasul.
4.      Al-Muhkam yaitu lafadz yang dalalahnya dapat diketahui dari makna di maksud dalam syiqaqnya dan tidak dapat dita’wilkan / ditafsirkan dan tidak dapat di naskh pada masa Rasul. [1]





B.     Pengertian Al-Muhkam dan Al-Mutasyabih
  1. Pengertian Bahasa
Muhkam menurut bahasa berasal dari kata hakama yang arti asalnya “menanti atau mencegah untuk kemaslahatan”. Kata mahkam berarti (sesuatu) yang di kokohkan. Ih kam al kalam mempunyai makna mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat.
            Berdasarkan makna inilah firman Allah SWT :




Artinya :
Alif loam ra (inilah) sebuah kitab yang ayatnya dimahkamkan, di kokohkan serta di jelaskan secara rinci, diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Tahu (Qs. Hud. 11:1)

Semua ayat Al-Qur’an adalah muhkam berarti kata-katanya kokoh, kuat, indah susunannya dan sama sekali tidak mengandung kelemahan baik dalam hal kata-katanya, rangkaian kalimatnya maupun maknanya.
Mutasyabih secara bahasa  berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua serupa dengan yang lain. Syubhah berarti keadaan dimana salah satu dan karena adanya kemiripan diantara keduannya, baik secara kongkrit maupun abstrak.
Dengan pengertian inilah Allah mensifati Al-Qur’an yang di tegaskan dalam ayat :




Artinya :
            Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa lagi berulang-ulang. (QS. Al-Zumar 39 : 23).
            Makna mutasyabih pada ayat diatas adalah Al-Qur’an itu sebagian kandungannya serupa dengan sebagian yang lain dalam kesempurnaannya dan keindahannya sesuai pula maknanya.

  1. Pengertian Istilah
Ulama Berbeda pendapat dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabih. Jika diteliti lebih dalam semua defini di kemukakan bertitik tolak dari ayat Al-Qur’an yang artinya :  
            “ Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang mahkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabih adapun orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah SWT. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “ Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih semuanya dari sisi Tuhan kami” dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal”. (QS. Ali Imran 3 : 7)
            Dari perbedaan pendapat dari ulama mahkam dan mutasyabih yang terpenting diantaranya :
-          Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedangkan mutasyabih hanyalah Allah yang mengetahui maksudnya
-          Muhkam merupakan ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedangkan mutasyabih mengandung banyak wajah-wajah
-          Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan mutasyabih tidak demikian, yang memerlukan penjelasan yang merujuk kepada ayat-ayat lain. [2]




Selain penjelasan diatas, ada juga beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ulama tafsir mengenai muhkam dan mutasyabih :
  1. Imam Al-Razi
Muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat baik maksud maupun lafadznya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang dalalahnya lemah, masih bersifat mujmal, memerlukan ta’wil dan sulit dipahami.

  1. Manna Al-Qoththan
Mahkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain. [3]

  1. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Muhkam adalah ayat-ayat yang jelas maknanya yang tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung kesamaran artinya sehingga orang-orang yang kemiliki keraguan akan segala pengertian terhadap Allah, kitab-kitab dan Rasulnya. [4]

Pendapat lain sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi bahwa; 1) muhkam adalah yang dapat diketahui maksudnya dengan nyata dan jelas ataupun dengan cara ta'wil. Sedangkan mutasyabili adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah seperti kedatangan hari kiamat dan maksud dari huruf-huruf terpisah yang terdapat pada beberapa awal surah. 2) Muhkam adalah yang tidak dapat dita'wilkan kecuali hanya dengan satu penta'-wilan saja, sedangkan mutasyabih adalah yang mungkin dapat dita'wilkan dengan banyak penta'wilan. 3) Muhkam adalah ayat yang menerangkan tentang faraidl, ancaman, dan harapan, Sedangkan mutasyabih adalah tentang ayat-ayat yang berhu-bungan dengan kisah-kisah dan amstal. 4) Muhkam adalah lafadz yang tidak diulang-ulang, sedangkan mutasyabih adalah sebaliknya. 5) Sebagaimana ada yang mengatakan bahwa muhkam at adalah ayat-ayat yang tidak dinasakh, maka mutasyabihat adalah ayat-ayat atau ajaran-ajaran yang telah dinasakh. 6) Ada yang berpendapat bahwa muhkam adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan halal dan haram, sedangkan mutasyabihat adalah ayat-ayat selain yang berkenaan dengan halal dan haram 7 Dan masih banyak pendapat para ulama yang mengemukakan tentang perbedaan muhkam dengan mutasyabih.
Dari beberapa pendapat yang beragam di atas dapat dipadukan antara muhkam dan mutasyabih, bahwa yangdimaksud dengan muhkam adalah kekokohan lafadz ayat dan kemantapannya serta tidak akan terjadi perselisihan dan kekurangan dalam al-Qur'an. Sedangkan yang dimaksud dengan mutasyabih adalah penyerupaan antara bagian yang satu dari al-Qur'an dengan bagian yang lain dalam hal kebe-naran, ketepatan, dan i'jaznya. Lebih jelasnya mutn^mkih arM^h sesuatu yang telah diketahui artinya namun mustahiJ untuk dikatakan sebagaimana yang dimaklumi, seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah swt. Semua pengertian di atas, dapat dikatakan benar karena pengertian muhkam dan mutasyabih dapat mencakup seluruh pengertian. Pengertian-pengertian tentang muhkam dan mutasyabih yang diketengahkan al-Suyuthi dapat dikompromikan menjadi satu pengertian, yaitu muhkam adalah lafadz yang dalalahnya jelas dan tidak terjadi perselisihan di dalamnya, termasuk dalam hal ini adalah segala lafadz yang maknanya hanya dapat dita'wilkan atau ditafsirkan dengan satu pengertian, juga segala perintah Allah yang berkenaan dengan halai dan haram, perintah dan larangan, dan segala lafadz yang telah jelas lafadz dan maknanya.

B. Jenis Muhkam
Muhkam dan mutasyabih masing-masing dapat di bagi ke dalam dua kategori, yakni : muhkam li dzatihi dan muhkam li ghairihi. Muhkam sebagaimana yang telah diuraikan diatas, sedangkan muhkam li ghairihi adalah ayat-ayat yang belum di naskh pada masa Rasulullah, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Badawi dalam kasy al-asrar yang dikutip oleh Al-KS:
            “ Yang tidak dinaskh kan sehingga keputusannya wahyu dan nabi telah wafat, maka ini dinamakan muhkam li ghairihi, jenis ini mencakup al-dzahir, al-nash, al-mufassar, dan al-muhkam” karena masing-masing  belum terkna naskh hingga muhkam yang disebabkan oleh terputusnya kemungkinan adanya naskh.
            Mutasyabih juga mempunyai dua bentuk yaitu mutasyabih ayat yang terdapat dalam lafadz huruf berupa huruf-huruf pada mulanya beberapa surah dalam al-Qur’an, dan mutasyabih yang terdapat dalam mahfum ayat seperti yang terdapat pada ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah SWT.[5]
             
C.    Pembagian Ayat-Ayat Mutasyabih
Ayat-ayat yang jelas dan terang maknanya, tidak kita bahas terlalu jauh. Karena apabila kita membacanya kita langsung dapat memahami kandungan isinya. Akan tetapi yang perlu kita bahas lebih jauh lagi adalah ayat-ayat mutasyabihat agat kita dapat mengetahui persoalannya.
Ayat-ayat mutasyabih dapat dikategorikan kepada tiga bagian yaitu pertama mutasyabih dari lafadz kedua mutasyabih dari segi maknanya, dan yang ketiga merupakan kombinasi dari keduannya yaitu dari segi lafadz dan maknanya sekaligus.

1.      Mutasyabih dari Segi Lafadz

Mutasyaabih dari segi lafadz dapat pula dibagi mdu macam :
a.   Yang dikemablikan kepada lafadz yang tunggal yang sulit pemaknaannya seperti               dan               dan yang dilihat dari segi gandanya lafadz itu dalam pemakdanaannya, seperti lafadz.
b.   Lafadz yang dikembalikan kepada bilangan susunan kalimatnya yang seperti ini ada tiga macam :
1.   Mutasyabih karena ringkasan kalimat, seperti firman Allah :


      Yag dimaksud dengan                        disini adalah juga mencakup

2.      Mutasyabih karena luasnya kalimat, seperti firman Allah
Niscaya akan lebih mudan dipahami jika diungkapkan dengan

3.      Mutasyabih karena kalimatnya, seperti firman Allah :

Akan mudah dipahami nila diungkapkan dengan :

2. Mutasyabih dari Segi Maknanya
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan  terjadinya.  Semua sifat yang demikian tidak dapat digambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapapun.

3. Mutasyabih dari Segi Lafadz dan Makananya
            Mutasyabih dari segi ini, menurut As-Suyuthi, ada lima macam yaitu :
  1. Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafadz yang umum dan khusus :

  1. Mutasyabih dari segi caranya, seperti perintah wajib dan sunnah :

  1. Mutasyabih dari segi waktu, seperti naskh dan mansukh

  1. Mutasyabih dari segi tempat dan suisasana di mana ayat itu diturunkan,misalnya : 
  2. Mutasyabih dari segi syarat-syarat, sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidak adanya syarat yang dibutuhkan.

Misalnya ibadah shalat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya. [6]

D.    Sikap Ulama Terhadap Al-Mukam dan Al-Mutasyabih
Tidak terdapat perbedaan pendapat ulama untuk mengetahui maksud ayat-ayat muhkam. Namun meyangkut ayat-ayat mutasyabihat, terjadi perbedaan pendapat sumber perbedaan pendapat ini berawal pada masalah waqaf dalam ayat-ayat wa al-rasikhuna fi al-ilmu (dan orang-orang yang dalam ilmunya) dalam ayat.
Perbedaan tersebut terjadi karena :
Apakah kedudukan lafadz-lafadz ini sebagai “Mubtada” yang kabarnya adalah yaquluha dengan “wawu” diperlukan sebagai huruf isti’naf (permulaan) dan waqaf dilakukan pada lafal  atau ia ma’tuf, sedang lafadz yaquluna sebagai hal dan waqafnya, pada lafadz wa al-rasikhuna fi al-ilmi.
            Dalam perbedaan ini ada beberapa pendapat yaitu :
Imam mujahid dan sahabat-sahabat serta Imam Nawawi cenderung berpendapat bawha wa al-raskhina fi al-ilmi di atbaf-kan kepada Allah. Dengan kata lain mereka berpendapat bahwa ta’wil dari ayat mutasyabih dapat diketahui, di samping oleh Allah, juga oleh orang-orang yang dalam ilmunya. Kelompok ini berpendapat dengan menggunakan dalil:
            Hadits riwayat Ibnu Mundzir, Mujahid dan Ibn Abbas mengenai ayat 7 surat Ali Imran tersebut. Terhadap ayat ini Ibn Abbas berkata” Saya termasuk orang-orang yang lebih mengetahui ta’wilnya.
Hadits riwayat Ibn Hatim dari Dhaka yang berkata “ Orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui ta’wilnya, tentulah mereka tidak mengerti mana yang naskh dan mana yang mansukh dan tidak mengetahui yang halal dari yang haram serta yang muhkam dari yang mutasyabih.
            Sebagian besar ulama berpendapat, tidak ada yang mengetagui ta’wil ayat mutasyabih kecuali Allah sendiri. Mereka menjawab supaya orang-orang tidak mencari ta’wilnya dan menyerahkan persoalan itu kepada Allah SWT. Sementara mereka yang dalam ilmunya mengenai ta’wil Al-Qur’an berakhir pada ucapan: kami mengimaninya, semuanya datang dari Allah Tuhan kami.[7]
            Untuk mengkompromikan kedua pendapat diatas dapat dilihat melalui makna ta’wil karena lafadz ta’wil digunakan untuk menunjukkan 3 makna :
Pertama, memalingkan sebuah lafadz dari makna yang rajah (kuat) kepada makna yang marjuh, karena ada suatu dalil yang menghendakinya.
Kedua, ta’wil dengan makna tafsir yang berarti menerangkan menjelaskan, berarti pembicaraan untuk menafsirkan lafadz-lafadz agar maknanya dapat dipahami.
Ketiga, ta’wil merupakan subtansi yang kepadanya pembicaraan di kembalikan.
            Golongan  yang mengatakan bawha waqaf dilakukan pada lafadz wa ma ya’lamu illa Allah dan menjadikan wa al-rasikhuna fi al-ilmi sebagai permulaan, mengatakan ; ta’wil dalam ayat ini adalah ta’wil dengan pengertian ketiga, yakni hakikat yang dimaksud dari suatu perkataan. Karena itu hakikat zat Allah, esensi-Nya, kaifiyat dan sifat-Nya, serta hakikat hari kemudian, semua itu ada yang mengetahui kecuali Allah SWT sendiri.
            Sebaliknya, golongan  yang mengatakan waqaf pada lafadz athaf, bukan isti’naf mengartikan kata ta’wil tersebut dengan arti kedua, yaitu ta’wil dalam arti tafsir, menerangkan, menjelaskan, dan mengungkap.
            Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut. Perbedaan ini hanya berkisar dalam tataran bahasa. [8]
            Dari dua pendapat yang kelihatannya kontradiksi di atas, ada lagi ulama yang berpendapat lain. Dalam hal ini  Ar-Raghib Al-Asfahani dia mengambil jalan tengah dari kedua pendapat diatas. Ar-Righib membagi ayat-ayat mutasyabih menjadi 3 bagian :
    1. Ayat yang sama sekali tidak diketahui hakikatnya oleh manusia, seperti waktu tibanya hari kiamat.
    2. Ayat mutasyabih yang dapat diketahui oleh manusia (orang awam) dengan menggunakan berbagai sarana terutama kemamp;uan akan pikiran.
    3. Ayat-ayat mutasyabih yang khususnya hanya dapat diketahui maknanya oleh orang-orang yang ilmunya dalam dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang selain mereka.
Di dalam pokok-pokok yang merupakan pembahasan mufassirin di dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyabih. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih tentang sifat-sifat Allah terdapat lagi perbedaan di kalngan ulama:
            Pertama, Muzhab Salaf mengimani sifat-sifat Mutasyabih dan menyerahkan maknaya kepada Allah SWT. Pendapat ini didasari oleh ayat 5 Surah thaha yang berbunyi :



            Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy.

            Dari ayat di atas muncul kisah dimana pada suatu hari Imam malik di Tanya tentang makna Istiwa” (bersemayam), lalu ia menjawab : “ Lafadz Istiwa” dapat dimengerti, tetapi tentang bagaimana tidaklah dapat diketahui oleh seorang pun selain Allah SWT.” Bahkan Imam Malik mengatakan bahwa pertanyaan seperti itu adalah bid’ah.
            Kedua. Muzhab Kahlifah menyikapi sifat-sifat mutasyabih Allah, dengan menetapkan makna-makna bagi lafadz-lafadz yang menuntut lahirnya mustahil bagi Allah, dengan pengertian yang layak bagi zat Allah, golongan ini dinamakan juga dengan golongan muawwilah.
            Dari kedua pendapat tentang ayat-ayat mutasyabih mengenai sifat Allah dapat disimpulkan bahwa kaum salaf mensucikan Allah dari makna lafadz dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah. Lain halnya dengan kaum Khalaf, mereka mengartikan bahwa kata istiwa’ dengan Maha Berkuasa Allah dalam menciptakan segala sesuatu tanpa usaha.
            Untuk melengkapi pembahasan ini ada baiknya dipaparkan tentang beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan sifat-sifat mutasyabihat-Nya seperti :

1. QS. Tahaha ayat 5 :                                                            Artinya “(Allah) maha pengasih bersemayam di atas arsy”.
2. QS. Al Fajr ayat 2 :                                                 Artinya “ dan datanglah kepada Tuhamu sedang para Malaikat berbaris-baris.
3. QS. Al An’am ayat 61 :                                          Artinya “ dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya.
4. QS. Ar Rahman ayat 27 :
    Artinya : “ dan tetapi kekal wajah Tuhamu “
5. QS. Thaha ayat 39 :                                                Artinya “ Tangan Allah diatas mata-ku”
6. qs. Al Fath ayat 10:                                                 Artinya “ Tangan Allah diatas tangan mereka “.
7. QS. Ali Imran mengenai ayat 28 :
    Artinya “ Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya”.

            Demikianlah beberapa contoh ayat-ayat mutasyabih tentang sifat-sifat Allah dan masih banyak ayat-ayat mengenai masalah ini yang belum sempat diungkapkan dalam buku ini. Yang jelas pada ayat-ayat tersebut terdapat kata-kata bersemayam, dating, diatas, sisi, wajah, mata, tangan dan diri yang dijadikan “ sifat Allah”. Kata-kata tersebut menunjukkan keadaan, tempat, dan anggota yang layak dipakai bagi makhluk yang baru, misalnya manusia. Karena kata-kata tersebut dibangsakan yang Qadim (Allah) maka sulit dipahami akan maksud yang sebenarnya. Itulah sebabnya ayat-ayat tersebut dinamakan mutasyabih. Jika ditanya apakah maksud yang sebenarnya dari ayat-ayat tersebut.
            Dalam rangka menjawab pertanyaan  tersebut Subhi Sholih mengemukakan pendapat dua kelompok muzhab, yaitu salaf dan khalaf.
  1. Muzhab Salaf
Kelompok ini mempercayai dan mengimani ayat-ayat (tentang sifat-sifat) mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah, Mereka tetap mensucikan Allah dari makna-makna lahir yang mustahil atau tidak mungkin bagi Allah. Dan mereka mengimaninya sebagaimana diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan hakikat sebenarnya kepada Allah”.

  1. Muzhab Khalaf
Kelompok ini adalah kelompok ulama  yang menakwilkan lafadz yang makna lahirnya itu mustahil kepada makna yang lain yang sesuai dengan zat Allah. Kelompok ini lebih dikenal dengan nama muawwilah atau muzhab takwil. Mereka menakwilkan semua sifat-sifat yang terdapat pada yat-ayat mutasyabih di atas dengan takwilan yang rasional. Istiwa’ mereka takwilkan dengan pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kesulitan. Kedatangan Allah mereka artikan dengan kedatangan perintah-Nya. Allah berbeda di atas hamba-Nya diartikan dengan Allah maha tinggi, bukan berada pada suatu tempat. Kata sisi mereka artikan hak Allah. Wajah mereka artikan zat Allah. Mata mereka artikan dengan pengawasan. Tangan mereka artikan kekuasaan Allah. Diri mereka artikan dengan siksaan –Nya. [9]

E.     Kaidah-Kaidah Muhkam dan Mutasyabih
Kaidah-kaidah yang dapat ditarik dari berbagai macam muhkam dan mutasyabih yang ada dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
  1. Jika suatu lafadz menunjukkan dalalahnya dengan secara nyata, jelas, parti serta tidak ada kemungkinan untuk di ta’wilkan atau ditashishkan atau dinaskh (setelah masa kenabian, maka ia adalah muhkam.
  2. Muhkam dalam nash Al-Qur’an yang boleh di ta’wilkan kepada makna yang lain dan jika amin tidak boleh ditakhishkan, maka muhkam seperti ini disebut dengan mufashsha dan mufass dengan tafsir yang tidak boleh ada keraguan di dalamnya.
  3. Setiap nash Al-Qur’an yang berkenan dengan pokok-pokok ajaran agama seperti imam kepada Allah, keesaan Allah, dan iman kepada malaikat, Rasul, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka serta iman kepada hari akhir dan tentang hal-hal yang telah terjadi dan akan terjadi, maka ia termasuk muhkam.
  4. Setiap nash yang menunjukkan akan keutamaan-keutamaan, akhlak, dan sifat budi pekerti yang baik, seperti jujur, amanah, dan lainnya termasuk muhkam.
  5. Mutasyabihat adalah setiap lafadz yang telah diketahui maknanya, akan tetapi dita’wilkan.Sebagaimana ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat atau dzat Allah SWT.
“Yadu Allah fauqa aidihim” (tangan Allah di atas tangan-tangan mereka), maksudnya bukanlah seperti tangan yang diketahui secara umum, sehingga boleh dita’wilkan dengan qudrah atau kekuasaan.
F.     Hukum Muhkam dan Mutasyabih
Hukum muhkam adalah wajib diyakini dan dikerjakan seperti yang telah diwajibkan untuk dimani tanpa ada keraguan dan kemungkinan-kemungkinan yang lain.
            Makna dari muhkam tidak dapat dipalingkan kepada arti yang lain, sebagaimana ia tidak mungkin untuk dinasakh. Dengan demikian maka dalalahnya terhadap suatu hokum tertentu lebih kuat dari seluruh jenis dalalah-dalalah yang harus mengikuti dalalah yang terdapat dalam muhkam ini.
            Apabila terdapat suatu pertentangan dengan yang lain maka muhkam lebih layak di dahulukan, bahkan dalah-dalalah yang lain harus mengikuti dalalah yang terdapat dalam muhkam ini.
            Adapun hokum mutasyabih harus ditawaqqufkan dari penta’wilannya di dunia. Disamping itu, harus diyakini maksud kebenarannya hanya kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah  tentang orang-orang yang mendalami dalam penta’wilan mutasyabih.
            Sedang orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, adalah tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Tawaqquf atau berhenti di sini adalah benar sebagaimana kesepakatan sahabat Rosul yang mendengar Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah SAW, sedangkan isti’naf memulai dari                                     ini adalah keterangan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : kami beriman kepada Allah, yang berarti menyerahkan makna mutasyabih ini sepenuhnya kepada Allah, karena merupakan rahasia-rahasia yang hanya diketahui oleh Allah SWT sendiri. [10]





KESIMPULAN

            Dari pembahasan di atas dapat kami simpulkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berisi ayat-ayat muhkam saja, tapi juga berisi ayat-ayat mutasyabih yang barang kali akan senantiasa menjadi pendorong kaum mukmin untuk terus menerus menggali berbagai ilmu menurut batas kesanggupannya dalam memahami ayat-ayat mutasyabih. Dengan demikian Tidak ada keraguan akan salah pengertian terhadap Allah kitab-kitab-Nya dan Rosul-Nya.























DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mawardi. 2010.Ulumul Qur’an . Jember : Pustaka Pelajar.
Anwar, Abu. 2002. Ulumul Qur’an. Pekanbaru: Amzah
Halimatussa’diyah. 2006. Ulumul Qur’an. Palembang : IAIN Raden Fatah Press.










[1] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2010, hal. 88-92
[2] Halimatussa’diyah, Ulumul Qur’an.Palembang : IAIN Raden Fatah Press.2006.hal. 141-144
[3] Abu Anwar, Ulumul Qur’an,Pekanbaru, Amzah, 2002.hal. 77-78
[4] Halimatussa’diyah, Ulumul Qur’an,Palembang:IAINRaden Fatah Press. 2006,hal.144
[5] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.2010.hal.95-97
[6] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, Pekanbaru: Amzah, 2002.hal.78-81
[7] Halimatussa’diyah, Ulumul Qur’an. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.2006.hal.145-146
[8] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an,Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2010.hal.98-99
[9] Abu Anawar, Ulumul Qur’an,Pekanbaru : Amzah.2002.hal.83-86
[10] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2010.hal. 100-102

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar